close

Ada 3 Langkah Cerdas Menyikapi Harta

By  

Orang yang tidak percaya bahwa Allah telah menjamin rezekinya, maka ia akan mendapat laknat dari Allah [Hasan Al-Bashri]


SETIAP manusia tentu membutuhkan harta, tetapi Islam menghendaki umatnya tidak mesti berlebih-lebihan. Oleh karena itu, sebagai Muslim sudah seharusnya memahami bagaimana cara menyikapi harta.

Pertama, tidak berlebih-lebihan dan tidak mengambil selain haknya. Rasulullah memberikan penjelasan yang sangat menarik soal ini.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam bersabda, “Demi Allah! Sungguh aku tidak khawatir terhadap kalian kecuali mengenai perhiasan dunia (harta) yang diberikan oleh Allah kepada kalian. Seorang lelaki pun bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah kebaikan (harta) itu mendatangkan kejelekan?” Rasulullah bersabda

لاَ يَأْتِى الْخَيْرُ إِلاَّ بِالْخَيْرِ ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، وَإِنَّ كُلَّ مَا أَنْبَتَ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ ، إِلاَّ آكِلَةَ الْخَضِرَةِ ، أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ ، فَاجْتَرَّتْ وَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ، ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ ، وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ حُلْوَةٌ ، مَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِى حَقِّهِ ، فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ ، كَانَ الَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ

“Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda ini nampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamaannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musin semi menyebabkan binatang ternak mati kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga ketika perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan juga kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda ini terasa manis. Barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barang siapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikan binatang yang makan rerumputan akan tetapi ia tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya ia pun celaka karenanya).” (HR. Bukhari no. 6427 dan Muslim no. 1052).

Kedua, menyedekahkan sebagian. Seperti jamak dipahami sebagai Muslim kita mesti hidup berdampingan, saling menolong, saling membantu dan tentu saja saling memberi. Terlebih secara gamblang perintah bersedekah atau berinfak amat jelas tertera di dalam Al-Qur’an.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam pernah bersabda ketika beliau di atas mimbar sedang menuturkan masalah sedekah dan menghindari perbuatan meminta-minta.

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى. وَالْيَدُ الْعُلْيَا اَلْمُنْفِقَةُ. وَالسُّفْلَى اَلسَّائِلَةُ

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah pemberi dan tangan yang di bawah adalah peminta-minta.” (HR. Bukhari).

Ketiga, jauhi sifat rakus. Tidak sedikit manusia yang awalnya cerdas, berbakti di tengah-tengah masyarakat dan santun berubah menjadi bringas dan asosial kala mendapat jabatan atau kekayaan. Malah perilakunya semakin buruk dan terus semakin keji hingga ajal tiba merampas semua kesenangannya.

Rasulullah bersabda, “Manusia cepat menua dan beruban karena dua hal, rakus terhadap harta dan rakus terhadap umur alias takut mati.” (HR. Bukhari).

Namun demikian jangan disalah artikan bahwa Islam seolah-olah anti terhadap harta. Justru Islam menganjurkan umatnya rajin bekerja dan jangan sampai meminta-minta.

“Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali dia bertemu dengan Allah, sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, bekerjalah dengan penuh kesungguhan, hemat dan berbagilah dengan sesama. Allah dan Rasul-Nya menghendaki jangan sampai harta itu merajai diri kita. Andaipun harta kita miliki bahkan dalam jumlah yang lebih dari cukup sampai pada jumlah yang sangat banyak, jangan sampai iman justru terpenjara olehnya.

Kita mesti belajar bagaimana menyikapi harta kepada Sayyidah Khadijah, Abu Bakar, Utsman, Abdurrahman bin Auf bahkan Sayyidah Aisyah yang tidak sedikitpun berubah imannya karena memegang harta. Sebaliknya, harta itu menjadi kendaraan penting untuk mendapat ridho-Nya. Itulah orang yang benar-benar kaya dunia-akhirat.

Sofyan Ats-Tsauri berkata, “Sesungguhnya orang berharta bila dia zuhud di dunia, dan orang itu adalah fakir bila dia gemar pada dunia.”

ADVERTISEMENT
Toko Sisi

About Toko Sisi

Sabar dan tahan uji, serta penuh harap (optimisme) terhadap pertolongan Allah seperti dipesankan Khalifah Umar haruslah menjadi keyakinan kaum beriman. Dalam Alquran ditemukan banyak ayat yang menjanjikan kemudahan di balik kesulitan.

Subscribe to this Blog via Email :