close

Inilah Hitler dari Myanmar, Inspirator Pembantaian Muslim Rohingya

By  



Na’udzubillah… Inilah Hitler dari Myanmar, inspirator pembantaian muslim Rohingya.

Sahabat Ummi, berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita ucapkan, ketika kita menginspirasi orang lain untuk berbuat hal buruk, maka kita pun akan mendapatkan dosa dari perbuatan buruk tersebut. 

“Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).

Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang Biksu Myanmar yang menyebar kebencian atas muslim Rohingya, banyak pihak yang menyamakan biksu Buddha asal Myanmar ini dengan Adolf Hitler, pemimpin Nazi yang terkenal rasis dan menginspirasi pembantaian besar-besaran di Jerman, biksu ini bernama Ashin Wirathu.

Tentu saja kita tidak boleh menyamaratakan semua biksu ataupun semua umat Budha sebagaimana sosok Ashin, karena hal tersebut tidak tepat dan tidak adil. 

Lewat pidatonya, Ashin Wirathu telah memprovokasi umat Budha Myanmar untuk membenci muslim Rohingya dan menganggap muslim sebagai ancaman di Myanmar, ia menginisiasi gerakan 969, yakni gerakan boikot produk buatan muslim, slogan mereka adalah 'buy Buddhist and shop bhuddist'.

Pemboikotan ini meminta orang-orang Budha untuk hanya membeli dari toko dan bisnis yang dijalankan umat Budha. Ia menyampaikan serangkaian pidato di berbagai tempat, menyalakan kebencian kaum Budha atas umat Islam. Selain melalui pidato, gerakan 969 juga menyebar dengan cepat melalui stiker, brosur dan sebagainya. 

Stiker 969 bisa dengan mudah ditemui di sepeda motor milik orang Budha, mobil, warung pinggir jalan hingga pusat kota. Kebencian dan anti-Islam meluas dengan cepat, berbuah pembantaian dan pengusiran umat Islam, khususnya Rohingya.

Tidak hanya itu, Ashin juga terang-terangan menyatakan muslim Rohingya adalah anjing gila. “Anda bisa berikan kebaikan dan rasa kasih, tetapi Anda tidak bisa tidur di samping anjing gila,” kata Wirathu seperti dikutip The New York Times, 21 Juni 2013. Yang dimaksud "anjing gila" oleh Wirathu adalah Muslim Rohingya sebagaimana tema khutbahnya.

Kemudian, sempat terlontar perkataannya bahwa ia takut jika Myanmar akan menjadi seperti Indonesia yang di masa lalunya didominasi umat Hindu dan Buddha, namun di akhir abad 16 sudah berganti didominasi oleh Islam.

Bahkan Biksu Ashin pun dengan berani menghina utusan PBB ke Myanmar sebagai pelacur. Pelapor Khusus PBB yang dihina biksu Myanmar itu adalah Yanghee Lee, diplomat asal Korea Selatan. Lee ditugaskan di Myanmar untuk menolong warga minoritas Muslim Rohingya yang menderita.

Hinaan ini tentu saja membuat kepala HAM PBB, Zeid Ra’ad Al Hussein marah dan meminta Pemerintah Myanmar dengan tegas mengutuk apa yang disampaikan oleh biksu Ashin, Zeid menilai bahasa yang digunakan biksu itu terlalu vulgar dan menghina.

”Saya meminta para pemimpin agama dan politik di Myanmar untuk tegas mengutuk segala bentuk hasutan pada kebencian termasuk serangan pribadi yang menjijikkan ini,”kata Zeid dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip BBC, kamis (22/1/2015)

Jelas bahwa kebencian biksu Ashin Wirathu pada muslim, terutama muslim Rohingya begitu besar. Ajaran Budha yang mengajarkan belas kasih rasanya tidak berbekas sama sekali pada dirinya. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baiknya pembalas makar yang dibuat oleh musuh-musuhNya.

ADVERTISEMENT
Toko Sisi

About Toko Sisi

Sabar dan tahan uji, serta penuh harap (optimisme) terhadap pertolongan Allah seperti dipesankan Khalifah Umar haruslah menjadi keyakinan kaum beriman. Dalam Alquran ditemukan banyak ayat yang menjanjikan kemudahan di balik kesulitan.

Subscribe to this Blog via Email :