close

Islam, Ibadah dan Puncak Kebahagiaan

By  

Oleh : Bangun Lubis M.Si

Akhir Desember 2011, Senin malam tanggal 27 lalu, saya bertemu dengan seorang lelaki dewasa. Namanya Wahid. Ia berkulit putih bermata sipit dengan rambut pendek lurus, menggambarkan bahwa ia adalah seorang warga negeri ini berketurunan Tionghoa.

Pertemuan saya dengan Wahid berlangsung di sebuah mushollah di perkampungan kami. Tadinya, saya kurang begitu memperhatikan dia, karena di mushollah ini sudah sering saudara muslim seiman dan para musyafir silih berganti singgah untuk melaksanakan sholat.

Tetapi, Wahid mencuri perhatian saya, karena ia tidak hanya sekadar singgah untuk sholat magrib, melainkan duduk dan membaca buku yang tersedia di rak buku pustaka kecil mushollah. Saya bersama jamaah lain saat itu sedang berbincang seputar bantuan kepada fakir miskin.

Berulangkali saya melirik Wahid yang berada empat meter dari kumpulan kami duduk. Sesekali ia mencuri pandang. Saya begitu tertarik dengan lelaki itu. Lantas saya menegurnya, dan ia pun mendekat ke kumpulan kami yang sedang berbincang. Ia mengucapkan “assalamu’alaikum, kami pun menjawab walaikumsalam.

Ia memperkenakan diri, dan secara spontan berucap,”Subhanalloh, saya adalah muallaf,”katanya, sembari bercerita panjang lebar mengenai kisah bagaimana datangnya hidayah pada dirinya dan istri. Sebelumnya, penuh dengan ketidakpastian namun hidayah Allah lah yang kemudian membawanya ke jalan yang lurus, jalan yang penuh barokah menuju Islam yang rahmatanlil’alamin.

Begitulah Allah SWT bila memberikan petunjuk bagi siapapun yang Dia inginkan maka tidak ada yang dapat menghalanginya. Sebagaimana firman Nya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” ”.......dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath : 1-2)

Hari-hari berikut menyaksikan Wahid ketika menjalankan ibadah sholat, begitu khusu’. Berdoa dengan cukup khidmad. Ia adalah gambaran diantara mereka yang memperoleh hidayah, lalu memeluk islam, menjalankan ibadah dengan khusu’ dan penuh keikhlasan mengharap keridhoan Allah SWT. “Kebahagian melalui ibadah-ibadah yang didirikan amatlah nyata”,ujarnya.

Memeluk Agama Islam

Wahid tentu tidak sendirian yang memperoleh petunjuk di jalan yang lurus sebagaimana janji Allah itu. Banyak orang-orang yang sebelumnya memeluk agama lain, kemudian memeluk Islam karena mereka mencari kebenaran dan jalan yang lurus menuju kebahagian hakiki. Islam makin menjadi pilihan bagi para pencari agama, karena agama islam di pandang sebagai agama yang Rahmatanlil’alamin. Para muallaf, merasakan betapa indah dan nikmatnya memeluk agama islam. Kata mereka, seiring dengan berbagai macam persoalan dunia yang semakin pelik, Islam menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat. Subhanalloh.

Maka tidaklah mengherankan informasi dari Pusat Dar Al Ber di Dubai, mengunkapkan hampir 100 orang ekspatriat dari kebangsaan berbeda mengucapkan dua kalimat syahadat pada Oktober tahun 2011. Mereka yang berasal dari berbagai negara yang datang berkunjung ke sana untuk mengetahui tentang Islam lalu kemudian memeluk agama Islam. Muallaf lebih memahami betapa Islam begitu toleran dan penuh kedamaian serta memberikan kebahagiaan hakiki.( Google : Islam dan Muallaf)

Dari Facebook Lee Gi Wu, terungkap pula aktor Korea yang namanya ditulis Lee Ki Woo (Lee Gi Wu) berusia 30 tahun dan seorang kiper gaek Timnas Korea, Lee Won Jae, saat ini telah memeluk agama islam. “........Allah memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki. dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk, (QS. Al-Qashash:56).

Begitulah Allah bila memberikan hidayah bagi mereka, maka tiada seorangpun yang dapat menghalangi. Kata para ulama, hidayah itu hendaklah direbut, dicari dan diupayakan agar ia hadir di hati sanubari.

Sebagaimana dikutip www.khaleejtimes.com, Senin (7/11-2011), melalui e-book: “Indahnya Islam, Manisnya Iman, Tulisan Ustadz Abdullah bin Taslim, mengurai cerita para muallaf yang memberikan renungan bagi kita. Misalnya, seorang warga jepang bernama Ayako, yang kini mengganti namanya dengan Aisyah, mengatakan bahwa Islam dengan seluruh kondisi keibadahannya, tidak terlepas dari semua prilaku kehidupan. Islam memberikan petunjuk bagi seluruh kehidupan hakiki manusia.”Saat saya pergi ke masjid, saya merasakan atmosfir yang sangat berbeda. Semua dilakukan bersama-sama (berjamaah), sedangkan orang Jepang, meskipun berteman, tapi pada akhirnya pulang ke rumah dan kemudian hidup dan sibuk masing-masing, tiada pola kekerabatan. Sebuah kehidupan yang jauh berbeda dengan kebersamaan ummat islam,”katanya, sembari menambahkan, dirinya begitu bahagia setelah memeluk Islam.”Kenikmatan begitu hakiki,”ujarnya.

Derajat Spritual

Pada hakekatnya, dari pengakuan dan gambaran nyata mereka, memberitahu kita bahwa ibadah dalam islam telah memberikan kontribusi yang demikian besar dalam memberikan kenikmatan dalam kehidupan jiwa dan lahiriah. Ibadah merupakan sebuah tugas yang mulia untuk mencapai puncak kedamaian, keindahan dan kebahagian yang nyata.

Sesungguhnya kesemua itu merupakan kesatupaduan yang tidak terlepas dari apa yang dikemukakan Allah dalam firman-Nya, katanya: ” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS : Az Zariyat : 56).

Di dalam islam ibadah menjadi satu sistem penghambaan yang harus berlangsung dengan kaikhlasan dan kesabaran, melalui keibadahanlah seseorang dapat mencapai puncak kenikmatan imani dan menggapai derajat spiritual yang tinggi. Itu pulalah yang menjadi cita-cita seorang hamba untuk memenuhi kebutuhan imani atau spiritual dan kebutuhan kebahagiaan lahiriah melalui ridho Allah.

Apakah hidayah, harapan derajat spiritual yang tinggi, kebahagian jiwa dan kenikmatan hidup yang hakiki, hanya milik mereka yang baru saja memeluk agama islam? Tentu tidak!. Ulasan ini juga hendaklah menjadi bagian dari kehidupan kita semua. Petunjuk dan hidayah itu ada di jalan mereka yang mencarinya. Semua kita harus mencarinya agar kebahagiaan dapat diraih.

ADVERTISEMENT
Toko Sisi

About Toko Sisi

Sabar dan tahan uji, serta penuh harap (optimisme) terhadap pertolongan Allah seperti dipesankan Khalifah Umar haruslah menjadi keyakinan kaum beriman. Dalam Alquran ditemukan banyak ayat yang menjanjikan kemudahan di balik kesulitan.

Subscribe to this Blog via Email :