close

Artikel - Membentuk Anak Sholeh

By  

Secara fitrah (manusiawi) kehadiran seorang anak adalah yang dinanti bagi setiap pasangan suami istri, meskipun jalan untuk mewujudkannya sangatlah berat, susah payah. Mengorbankan banyak tenaga, waktu, harta bahkan terkadang juga nyawa.

Setelah Allah SWT mengkaruniakan anak, orang tua masih juga mengorbankan segalanya guna membesarkan, mendidik sang anak dengan harapan kelak menjadi orang yang berguna, bahkan lebih berguna ketimbang orang tuanya sekarang. Dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi ketimbang orang tuanya sekarang, mungkin hampir tidak ada orang tua yang tidak berpikir demikian.

Orang tua rela mencari rezeki diperuntukkan kepada sang anak, meskipun terkadang dalam menikmati rezeki tersebut orang tua mengalah dan kebanyakan untuk sang anak. Betapa sangat besar pengorbanan orang tua untuk sang anak. Firman Allah SWT “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Luqman : 14).

Namun terkadang ada hal yang terlupakan oleh orang tua yakni memberikan bekal keimanan, ketaqwaan, serta akhlak yang mulia. Karena mungkin terlalu terbuai dengan anak, sehingga bekal tersebut terlewatkan. Inilah awal ketidakberkahan atau musibah bagi orang tua. Firman Allah SWT “Berbekallah kalian, sebaik-baik bekal adalah takwa (kepada Allah SWT.), dan takutlah kalian kepada-Ku wahai orang-orang yang berfikir.” (Al-Baqarah: 197)

Membentuk anak sholeh

Pertama, memilih dan mempercayakan kepada lembaga pendidikan yang sholeh. Lembaga pendidikan yang sholeh tidak selamanya hanya ada dalam madrasah, pesantren saja, namun lembaga yang punya perhatian besar pada perkembangan pendidikan Islam, kebanyakan para pendidiknya mempunyai azam (kemauan yang kuat) untuk mendidik dan mencerdaskan baik secara akademik maupun akhlak. Untuk itu orang tua harus selektif sekali dalam memilih pendidikan untuk anaknya, apalagi orang tua yang sibuk, jangan hanya terjebak pada kualitas akademik saja tanpa dibarengi dengan kualitas akhlak, sehingga mengakibatkan anak hebat, cerdas secara akademik namun akhlaknya buruk.

Kedua, lihat dan cermatilah pergaulan anak, siapa teman bergaulnya? Lingkungan bergaul sangat berperan sekali dalam membentuk akhlak seseorang, sekali orang tua terlena atau kurang kontrol sehingga anak bergaul dengan teman yang akhlaknya tidak baik, maka jangan salahkan anak apabila suatu saat ia pun akan berbuat tidak baik.

Hal tersebut telah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya “Perumpamaan duduk bersanding orang shaleh dengan duduk bersanding orang zhalim ibarat duduk bersanding penjual minyak wangi dengan duduk bersanding tukang besi (tukang pande). Bila kamu mendekati penjual minyak wangi boleh jadi dia memberikan minyaknya kepadamu sebagai promosi, atau bahkan kamu ingin membelinya, atau minimal kamu dapat mencium bau wangi yang semerbak. Sebaliknya bila kamu mendekati tukang besi boleh jadi bajumu akan terbakar karena jilatan api, atau kamu akan mendapatkan bau bacin yang membosankan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, memberikan rezeki yang halal dan thoyyib kepada sang anak. Kewajiban orang tua adalah mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Sahabat Abdillah bin Amrin ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda "Cukup dikatakan berdosa seseorang yang mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga." (HR. Abu Dawud dan Nasai)

Dan rezeki itu haruslah yang halal dan thoyyib. Hal ini telah jelas dalam firman Allah SWT “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 168)

Keempat, jadilah orang tua yang mampu menjadi teladan bagi anak. Memberi contoh yang baik kepada anak, jangan sekali-kali berbuat tercela di hadapan anak. Tidak ada alasan malu bagi orang tua untuk meminta maaf kepada anaknya apabila memang bersalah. Jangan membohongi anak meskipun pada hal-hal yang sepele. Firman Allah SWT “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

Kelima, selalu berdo’a kepada Allah SWT supaya dikaruniai keluarga, anak yang sholeh. Berikut do’a yang harus senantiasa diucapkan oleh seorang ayah setiap habis shalat lima waktu “Rabbana Hablana min Azwajina wa Dzurriyatina Qurrota A’yun waj ’alna lil Muttaqina Imama (Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa).” (QS. Al Furqan : 74)

Betapa bahagianya sebuah keluarga apabila semua anggota keluarga tersebut beriman kepada Allah SWT. Nilai-nilai keislaman selalu terpancar dalam setiap interaksi. Keluar dan masuk rumah didahului dengan salam, saling mendo’akan antar satu dengan lainnya.

Dengan kelima hal tersebut di atas harapannya anak yang selalu didambakan oleh kedua orang tuanya benar-benar mampu membuat bangga, memberi nilai manfaat khususnya bagi kedua orang tua baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Maka tidak ada istilahnya rugi bagi orang tua untuk menginvestasikan semua potensinya guna mewujudkan anak sholeh. Berapapun nilai materi yang harus dibayar, susah payah yang ditanggung asal anak sholeh, itu sangat memuaskan. Ketika orang tua masih hidup, sang anak selalu berbakti. Bahkan ketika orang tua telah meninggal, sang anak selalu mendo’akan supaya Allah SWT mengampuni segala dosanya. “Rabbighfirli wali walidayya warhamhuma kama robbayani shogira (Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan kedua orangtuaku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil).

Ingatlah bahwa salah satu amal yang tidak akan putus adalah anak sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya, sabda Nabi Muhammad SAW “Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Apabila seseorang telah meninggal, maka semua amalnya terputus kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan kepada kedua orang tuanya." (HR. Muslim). Wallahu ‘alam

nu.or.id / moslembrothers.com
* Alumni Univ. Wahid Hasyim Semarang

ADVERTISEMENT
Toko Sisi

About Toko Sisi

Sabar dan tahan uji, serta penuh harap (optimisme) terhadap pertolongan Allah seperti dipesankan Khalifah Umar haruslah menjadi keyakinan kaum beriman. Dalam Alquran ditemukan banyak ayat yang menjanjikan kemudahan di balik kesulitan.

Subscribe to this Blog via Email :